Kutipan Eka Kurniawan - Cantik Itu Luka

Di sini hanya berisi kutipan. Secuil dari seluruh isi buku. Jangan mudah silau oleh kutipan. Selami bukunya dan pahami sendiri makna tiap kalimatnya. Semoga kutipan dalam buku ini bisa memotivasi pembaca untuk membaca sendiri isi buku yang disajikan di sini. 
Selamat membaca.
☺️☺️☺️

"Kecemasan datang dari ketidaktahuan." (Dewi Ayu)
--84

"...,menolak sesuatu yang tak bisa ditolak adalah hal yang lebih menyakitkan dari apapun." (Dewi Ayu)
Gadis-gadis itu terpaksa menyerahkan tubuh mereka kepada tentara-tentara jepang yang tengah haus berahi. Menyetubuhi gadis, dianggap dapat meningkatkan semangat prajurit dalam berperang, maka dari itu, militer jepang menyediakan tempat-tempat pelacuran bagi prajuritnya.
--92

Max Havelar
--102

"Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada." (Dewi Ayu)
--134

"Setiap pakaian memberimu peran badut yang berbeda bagi jiwamu" (Shodancho)
--140

"Tak ada bedanya perang maupun bisnis, keduanya dikerjakan dengan sangat licik." (Shodancho)
--158

"Jika seorang komunis tak punya niat memberontak, jangan percayai ia seorang komunis" (Salim)
--179

Kaum pribumi adalah orang-orang paling malang, semalang-malangnya. Setelah bertahun-tahun hidup dibohongin raja-raja, tiba-tiba datang orang-orang Eropa. Mereka yang bahkan tak mengenal rasa gila hormat menjadi berlebihan di tanah Jawa. Petani-petani, setelah harus kerja paksa dan memberikan sebagian hasil panennya pada pemerintah kolonial, mereka bahkan harus pula berjongkok di jalan hanya karena seorang noni Belanda lewat. Komunis lahir oleh satu mimpi indah bahwa tak akan ada lagi yang seperti itu di muka bumi, tak ada lagi orang malas yang makan enak sementara yang lain kerja keras dan kelaparan.
--181-182

"AMUK"
itu adalah satu-satunyabalasan mengapa orang komunis akhirnya harus memberontak. Sebab kaum borjuasi tak mungkin diajak berdamai. Mereka tak mungkin menyerahkan kekuasaannya begitu saja, juga tak mungkin menyerahkan kekayaannya secara sukarela dan tak mungkin rela kehilangan hidup yang nyaman. Mereka tak suka berbagi, sebab jika itu terjadi, tak akan ada lagi orang yang menyeduhkan kopi untuk mereka, tak akan ada lagi yang mencucikan baju mereka, tak ada lagi orang yang memutarkan mesin untuk mereka, tak akan ada lagi yang memetikkan buah cokelat untuk mereka. Di dunia komunis, semua orang harus bisa malas dan semua orang harys bisa sama bekerja.
--182.

Antara preman dan prajurit. Bekebalikan di era sekarang. Entahlah. Dahulu, preman-preman menjaga kedai minum dan rumah pelacuran dari orang-orang yang tidak ingin membayar. Prajurit-prajurit datang menikmati minuman dan pelacur tanpa ingin membayar. Preman bertugas untuk menghajar prajurit-prajurit demikian.
--273

"Bangun, kamerad, Revolusi tak terjadi di tempat tidur."
--306

"Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?" tanya si Dokter pada Adinda.
"Tak perlu," kata Adinda. "Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya."
--358.

Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai seorang lelaki: pertama perempuan yang dicintai untuk disayangi, kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi.
--441-442

---------------------------------------------

Dewi Ayu harus mati terlebih dahulu untuk melawan roh yang menaruh dendam padanya. Dua puluh satu tahun setelah kematiannya, ia bangkit dari dalam kubur.

Dalam satu peristiwa tersebut, bangkitnya Dewi Ayu dari alam kubur, membuat seluruh penduduk Halimunda menjadi geger. Para suami dihinggapi kebahagiaan, sedangkan para istri dirundung kecemasan.

Bagaimana tidak, bagi para istri, Dewi Ayu adalah sebuah momok yang membuat suami mereka menjadi berahi.

Dewi Ayu merupakan pelacur yang paling digandrungi oleh para lelaki di halimunda, yang telah beristri maupun yang masih bujang. Semua mendambakan tidur dengan pelacur tersebut.

Dewi Ayu memiliki empat anak perempuan yang sama sekali tidak diketahui Ayahnya. Alamanda, Adinda, Maya Dewi dan yang terakhir Si Cantik yang buruk rupa.

Diantara empat anak tersebut, saya senang pada Adinda yang diperistri oleh Kamerad Kliwon.

Dalam peristiwa yang mengenaskan di tahun-tahun enam puluh lima, sebuah tragedi yang mengantarkan republik menjadi negara yang anti-komunis, Kamerad Kliwon hampir saja dihukum mati. Alamanda, istri Shodanco pimpinan rayon militer Halimunda, menyelematkan pemuda tersebut.

Prajurit-prajurit menghajar habis Kamerad Kliwon, membuat ia harus tersungkur dan dirawat di rumah sakit. Di rumah sakit, Ia sering ngelantur meminta korannya yang tak kunjung ia baca. Padahal koran-koran telah dibredel oleh prajurit-prajurit.

"Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?" tanya si Dokter pada Adinda.
"Tak perlu," kata Adinda. "Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya."
(Halaman: 358)

Kejamnya dunia...

Posting Komentar

0 Komentar