Kutipan Eko Prasetyo - Astaghfirullah Islam Jangan Dijual

Di sini hanya berisi kutipan. Secuil dari seluruh isi buku. Jangan mudah silau oleh kutipan. Selami bukunya dan pahami sendiri makna tiap kalimatnya. Semoga kutipan dalam buku ini bisa memotivasi pembaca untuk membaca sendiri isi buku yang disajikan di sini. 
Selamat membaca.
☺️☺️☺️

"Jangan menuntut imbalan atas suatu amal yang pelakunya bukan dirimu sendiri. Cukuplah balasan Allah bagimu jika dia menerima amal itu."
--Ibn Atha'ilah, Halaman: V

"Akal manusia laksana matanya dan agama laksana cermin; dia tidak dapat melihat dengan jelas keadaan dirinya kecuali dengan bantuan akal dan agamanya sebagaimana dia tidak dapat melihat dengan jelas rupa wajahnya dengan nyata kecuali dengan bantuan cermin."
--Al Hasan bin Miqdad, Halaman: VIII

"Jangan bersandar dan merasa tenang kepada orang-orang yang zalim kepada para penindas, tiran dan pelaku-pelaku kezaliman yakni mereka yang memiliki kekuatan di bumi dan menindas hamba-hamba Allah dengan kekuatan mereka dan memperhambakan mereka kepada selain Allah. Jangan bersandar dan merasa tenang kepada mereka, karena itu berarti restu dan pengakuan atas kemungkaran besar yang mereka lakukan itu serta ikut terlibat dalam dosa kemungkaran besar itu."
--Sayyid Qutb, Halaman: XII

"Kita tentu tak mau kyai atau ustadz kita terkena wabah busung lapar, tetapi itu bukan berarti kita memperkenankan mereka hidup bermewah-mewahan. Ulama kini terjerembab dalam budaya kapitalisme yang bersandarkan pada bagaimana nilai citra lebih ditonjolkan ketimbang nilai guna."
--Eko Prasetyo, Halaman: XIV

"Komoditas, dalam telaah Karl Marx, adalah produk dari kerja yang dibuat bukan untuk digunakan tapi untuk diperjualbelikan; sebagai komoditas, yang terpenting dari suatu produk adalah daya jualnya, bukan nilai gunanya. Ringkasnya komoditas bukan hanya obyek, tapi lebih dari itu, ia obyek dengan harga tertentu. Komoditas menjadi bernilai, baik untuk digunakan maupun untuk diperjualbelikan. (Lihat David Smith & Phil Evans, Das Kapital untuk pemula, Resist Book, 2005)"
--Eko Prasetyo, Halaman: XIV

"Para ahli agama yang paling bijak ialah mereka yang tidak membuat orang berputus asa akan rahmat Allah atau kehilangan harapan akan santunan dan kasih-sayangnya, tetapi juga tidak membuat orang terus-menerus merasa aman dari pembalasan-Nya."
--Imam Ali, Halaman: XVI

"Allah tidak hanya akan bertanya pada kita sejauh mana kita berbuat baik. Tapi juga sejauh mana kita bisa melawan kejahatan."
--Farid Esack, Halaman: XXIII

"Waktu lebih baik digunakan untuk memikirkan tentang penderitaan orang lain ketimbang kesakitan diri sendiri."
--Khaled Abou El Fadl, Halaman: 2

"Jika raja makan sebutir apel dari kebun rakyat
Anak buahnya akan mencabuti semua pohonnya
Orang zalim tidak selalu abadi
Tetapi laknatnya akan terus berlari."
--Sa'di, Halaman: 7

"Tidaklah orang miskin lapar dan telanjang, kecuali karena ulah orang-orang kaya. Ketahuilah Tuhan akan mengadili orang kaya seperti itu dengan pengadilan yang berat. Dan menyiksa mereka dengan siksa yang pedih."
--Rasulullah SAW, Halaman: 11

"Sesungguhnya sejarah, bukan sekedar tindakan masa lalu; melainkan akibat yang berlangsung perlahan dan tidak segera terasakan dari pengaruh ruang, waktu, iklim, dan teknologi dalam tindakan manusia."
--Fernand Braudel, Halaman: 13

"Sejarah dapat memberikan pemahaman pada bagaimana pengungkapan pola-pola praktek dan sederetan diskursus itu berlangsung..."
--Foucalt, Halaman: 13

"Positivisme telah membelenggu kesadaran hampir semua gerakan sosial sehingga membawa akibat yang nyata, yakni gagalnya umat menjelaskan aktor maupun sistem sosial yang telah membawa dampak langsung bagi kehidupan maupun kesadaran keagamaan. Positivisme yang dimaksudkan di sini adalah ikhtiar untuk memahami gejala-gejala sosial dengan bekal pengetahuan alam yang netral, manipulatif, dan memandang semuanya sebagai obyek."
--Eko Prasetyo, Halaman: 13

"Memahami postivisme sebagai metodologi perlu terlebih dulu memahaminya dalam konteks pengandaian-pengandaian dasar dari penelitian ilmu-ilmu alam. Pertama pengamatan atas segala sesuatu dipandang sebagai objek belaka;  kedua, menghadapi semua hal sebagai 'fakta netral'; ketiga, mengahadapi semua pengetahuan menurut model 'sebab-akibat'; keempat, hasil manipulasi sebagai pengetahuan-pengetahuan hukum yang niscaya. (Lihat F Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Kanisius, 2007)"
--CK, Halaman: 13

"Kisah tentang ekonomi pasar yang telah menciptakan tatanan komersial hanya bisa ditatap sebagai 'takdir sejarah' ketimbang sebagai proses proses sosial yang telah membawa malapetaka. Itu sebabnya kapitalisme sebagai kaidah sistem ekonomi serta sosial hanya mampu dicerca dan dicaci ketimbang dilawan melalui gerakan sosial yang konkret."
--Eko Prasetyo, Halaman: 14

"Bagi bangsa yang terlampau lama tidak menghargai akal sehat dan kurang menaruh hormat pada tradisi intelektual maka kekerasan tampaknya jadi pilihan pasti."
--Eko Prasetyo, Halaman: 16

"Kita tidak bisa sangsi terhadap posisi ketua dalam organisasi yang dimanfaatkan oleh segelintir oknum. Posisi ketua dijadikan sebagai kendaraan melancarkan kepentingan pribadinya. Posisi ketua memiliki daya tawar politik yang tinggi."
--BPA, Halaman: 22

"Akan datang suatu zaman atas manusia. Perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar mereka menjadi agama mereka. Kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka, waktu itu, tidak tersisa iman sedikitpun kecuali namanya saja. Tidak tersisa Islam sedikitpun kecuali pelajarannya saja. Mesjid-mesjid mereka makmur dan damai. Akan tetapi, hati mereka kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka menjadi mahkluk Allah yang paling buruk di permukaan menjadi mahkluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi. Kalau terjadi zaman seperti itu. Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana (al-bala) kekejaman para penguasa, kekeringan massa dan kekejaman para pejabat serta pengambil keputusan."
--Rasulullah SAW, Halaman: 24

"Jadi kerudung tidak sebatas penutup kepala. Tapi sebagai variasi tampil cantik, nyaman, bergaya, serasi dan modis pada kesempatan apapun."
--Eko Prasetyo, Halaman: 33

"Para penguasa media, sebagaimana yang dikatakan oleh Gramsci, memanfaatkan teori hegemoni dimana ikhtiar untuk 'melestarikan kekuasaan, kekayaan dan status mereka (dengan mempopulerkan) falsafah, kebudayaan, dan moralitas mereka sendiri' telah merasuk secara kuat pada publik."
--Eko Prasetyo, Halaman: 41

"...narsisme. Pola perangai dimana kepuasan diri terletak pada bagaimana atribut-atribut yang menempel  pada tubuh, bukan saja sebagai sarana untuk pelampiasan rasa estetik melainkan juga didorong oleh berbagai kombinasi faktor-faktor psikologis."
--Freud, Halaman: 45

"Barangsiapa diam di hadapan kezaliman maka dia menjadi seolah-olah iblis."
--Rasulullah SAW, Halaman: 58

"Jangan terperdaya oleh seorang ahli pidatonya, lantaran pidatonya, sebelum kelihatan bukti pada perbuatannya. Karena perkataan itu sumbernya ialah hati. Lidah hanya dijadikan sebagai tanda dari hati."
--Hamka, Tasawuf Modern, Halaman: 69

"Bertaqwalah kepada Allah berkenaan dengan buruh-buruh yang kamu kuasai. Kamu harus kasih makan kepada mereka seperti yang kamu makan, dan kamu tidak boleh membebani mereka dengan pekerjaan yang mereka tidak sanggup. Para pekerja itu adalah: daging, darah, mahkluk seperti kamu. Ingatlah, barangsiapa zalim kepada buruhnya, akulah musuhnya di hari kiamat dan Allah menjadi hakim bagi mereka."
--Rasulullah SAW, Halaman: 75

"Tidak boleh seseorang berada di suatu tempat yang disitu dipukuli seorang yang teraniaya. Karena, laknat Allah turun kepada semua yang menyaksikan peristiwa itu tetapi mereka tidak dapat mencegahnya."
--Rasulullah SAW, Halaman: 79

"Dua tokoh ekonom yang kemudian jadi nabi kaum neolib adalah Milton Friedman yang melawan ekonomi Keynesian dan Frederich Von Hayek yang melawan ekonomi terencana."
--Eko Prasetyo, Halaman: 89

"Prinsip etika yang kemudian dikedepankan adalah utilitarianisme, dimana sebuah tindakan betul sejauh memiliki 'kegunaan hasil dan masa depan'."
--Eko Prasetyo, Halaman: 101

"Ajarlah akhlak sejak kecil, laksana kayu. Dapatlah ranting-ranting itu diputar dan dibelokkan semasa kecil. Kalau sudah besar tidak dapat diputar-putar dan dibelokkan lagi, tetapi dipotong dengan kapak."
--Hamka, Halaman: 101

"Baudrillard mendefenisikan nilai tanda sebagai ekspresi dan tanda gaya, prestise, kemewahan, kekuatan yang menjadi penting untuk kemudian dikonsumsi."
--Eko Prasetyo, Halaman: 103

"Interpelasi; proses identifikasi aktif subyek atas budaya atau gaya hidup yang dominan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 105

"...bahwa bisnis - apapun namanya - tetap saja punya tujuan memupuk untung, bukan meningkatkan ketaqwaan apalagi mendorong kepekaan dan solidaritas sosial. Bisnis tetaplah bisnis."
--Eko Prasetyo, Halaman: 113

"Dunia akan bertahan dengan keadilan meskipun kafir. Dan tidak bertahan dengan kezaliman meskipun Islam."
--Imam Ali, Halaman: 123

"Orang-orang yang selalu belajar akan sangat dihormati; Dan semua kekuatan yang tidak dilandasi pengetahuan akan runtuh."
--Al Ghazali, Halaman: 143

"Jika orang sudah mengerti tentang sesuatu tetapi tidak diamalkan, maka mereka termasuk dalam kategori orang-orang dungu."
--Al Ghazali, Halaman: 145

"Urusan politik bukan dalam artian ikhtiar untuk merumuskan kebijakan populis, tetapi keterampilan-keterampilan taktik untuk mendapatkan dukungan. Sehingga kecakapan politisi bukan diukur dari kemampuannya untuk merumuskan visi perubahan sosial jangka panjang melainkan kemahirannya dalam melakukan kegiatab lobi."
--Eko Prasetyo, Halaman: 148

"Seorang kapitalis borjuis selalu menganjurkan-anjurkan agar produksi ditingkatkan. Seorang sosialis berpesan, agar produksi apapun dibagi rata. Seorang sosialis adalah orang yang saat ini mengajak agar orang-orang berpikir. Seorang kapitalis borjuis adalah orang yang saat ini justru bilang agar orang tidak berpikir."
--YB Mangunwijaya, Halaman: 151

"Ya Allah aku berlindung kepadamu dari duka dan susah,  dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan ketamakan. Dan dari kesulitan-kesulitan akibat utang dan dari penindasan orang."
--Rasulullah SAW, Halaman: 155

Posting Komentar

0 Komentar