Mahfud Ikhwan
Kutipan Mahfud Ikhwan - Menumis itu Gampang, Menulis Tidak
Saya membaca kalimat-kalimat pahit Neil Postman tentang televisi -- bahwa guna televisi untuk tradisi literasi hanya dua, yaitu jadi lampu cadangan jika lampu belajarmu mati dan jadi rak tambahan jika rak bukumu penuh. Tentu saja saya bersepakat dengannya; mana bisa tidak! Tapi, lidah tajam Postman tak kuasa membuat saya membenci televisi.
--58
Diskusi adalah tameng aman dan nyaman bagi orang-orang yang tak bisa berbuat lebih dari itu.
--71
Anehnya, saya melihat beberapa acara diskusi jadi terlalu megah, terlalu besar, terlalu ramai, terlalu rimbun. Lebih aneh lagi, saya merindukan yang lebih kecil; yang sepi tapi bersemangat, kurus tapi liat, rapuh sekaligus kokoh. Seperti... bonsai yang dipikirkan Wahab.
--75.
Saya tidak buntu, hanya kosong. Ide-ide banyak. Tapi, jika anda benar-benar tahu tentang menulis, sebuah ide ataupun banyak ide tak pernah cukup untuk sebuah tulisan. Ide tak akan jadi tulisan jika ia hanya berkelebatan, tak bisa anda tangkap untuk ditenangkan, kemudian dibedag dan kuliti, lalu diolah. Agresif sebagai pemburu, atau hanya jadi penjebak yang diam (seperti yang saya bayangkan tentang diri saya selama ini), Anda hatuslah seorang tukang jagal sekaligus juru masak untuk tulisan Anda.
--104.
Para aktivis mahasiswa di masa saya, sekitar dua puluh tahun lalu, suka sekali menghadap-hadapkan istilah 'proses' dan 'hasil' sembari membayangkan bahwa nyaris semua hal (belajar di bangku kuliah, berorganisasi, membaca, berjejaring, diskusi, dst.) adalah serangkaian upaya yang nanti berujung kepada sesuatu yang besar di suatu masa nanti (ijazah, pekerjaan atau karir yang diimpikan, masa depan cerah, buku yang dicita-citakan, dst.), dan itu merupakan ganjaran atas semua jerih-payah dan kesakitan yang telah dilewati. Cara berpikir ini seingat saya kemudian membagi mahasiswa dalam tiga kelompok besar: 1) yang berorientasi hasil; 2) yang bersetia dengan proses dan percaya bahwa hasil tak menghianati proses; 3) yang begitu menikmati proses meski tak yakin semua itu ujungnya ke mana. Jenis yang pertama jika tak disebut pragmatis, ia mendapat cap yang lebih buruk: oportunis; jenis kedua adalah yang paling diidealkan; jenis ketiga seringkali dengan berlebihan, dan seringkali secara salah, disebut sebagai idealis, tapi kadang kala --dan ini sering benar --sebenarnya tak lebih dari tak bertanggung jawab atau sepenuhnya disorientatif.
--237.
--------------------------------------------------
Saya membaca karyanya pertamakali yakni Kambing dan Hujan, sebuah novel spektakular, memenangkan lomba di DKJ. Setelah itu saya mencari karyanya yang lain melalui internet, yang mengantarkan saya kembali membaca karyanya yang berjudul 'Dawuk' dan 'Anwar Tohari mencari mati'. Bagiku, karya-karyanya mengesankan.
Dalam buku ini -- buku ke empat yang kubaca dari karya Mahfud Ikhwan -- saya serasa mengenal dekat penulis ini. Mulai dari kisah kanak-kanaknya, sampai pada saat ia tumbuh dewasa dan begitu fanatik pada dunia sepakbola.
Tentang menulis, saya mengutip "Saya tidak buntu, hanya kosong. Ide-ide banyak. Tapi, jika anda benar-benar tahu tentang menulis, sebuah ide ataupun banyak ide tak pernah cukup untuk sebuah tulisan. Ide tak akan jadi tulisan jika ia hanya berkelebatan, tak bisa anda tangkap untuk ditenangkan, kemudian dibedah dan kuliti, lalu diolah. Agresif sebagai pemburu, atau hanya jadi penjebak yang diam (seperti yang saya bayangkan tentang diri saya selama ini), Anda hatuslah seorang tukang jagal sekaligus juru masak untuk tulisan Anda." bahwa tertumpuknya ide dalam pikiran hanyalah sebatas tumpukan. Itu tidak cukup untuk sebuah tulisan. Musti ada hal lain dari sekadar tumpukan ide tersebut.
Lawan kemalasan...
Posting Komentar
0 Komentar