Kutipan Alissa Quart - Belanja Sampai Mati

Di sini hanya berisi kutipan. Secuil dari seluruh isi buku. Jangan mudah silau oleh kutipan. Selami bukunya dan pahami sendiri makna tiap kalimatnya. Semoga kutipan dalam buku ini bisa memotivasi pembaca untuk membaca sendiri isi buku yang disajikan di sini. Selamat membaca.
️☺️☺️


"Agar produk menarik perhatian konsumen, pelekatan merek adalah hal yang harus dilakukan sehingga produk akan tertanam di benak konsumen. Perusahaan memperbaiki cara membangun merek dan identitas konsumen. Kompetisi membuat pemasar harus terus mengembangkan dan memperbaharui strategi penjualan mereka."
--Halaman: 8, Alissa Quart

"Standar cantik dan terkenal telah berubah. Sekarang remaja saling menilai berdasarkan merek yang dikenakan dan jumlah uang yang mereka (atau keluarganya) miliki."
--Halaman: 14, Alissa Quart

"Kesannya remaja sekarang adalah anak-anak kapitalisme yang bahagia, tetapi seperti yang dikatakan seorang pendidik, kerja keras yang dialami remaja Amerika adalah 'konsekuensi materialisme.' Beberapa pendidik menyebut remaja sebagai kaum proletar baru, mereka bekerja untuk mengkonsumsi lebih banyak barang."
--Halaman: 16, Alissa Quart

"Richard Dyer memaparkan dinamika selebriti, yang mirip trendspotter, di bukunya Stars. Selebriti seringkali dilukiskan sebagai sesuatu yang luar biasa oleh pers sehingga perbedaan antara yang bintang dan yang terhebat menjadi kabur; Bintang bisa berarti yang paling cantik sampai yang paling luar biasa, "yang terhebat." Remaja dibesarkan dalam pengaruh perusahaan-perusahaan tenar sehingga mereka dengan mudah mengaitkan bintang dengan merek. Berdasarkan logika ini, merek paling terkenal adalah yang terhebat; jika remaja menjadi bagian dari merek terkenal maka mereka jadi yang terhebat."
--Halaman: 22, Alissa Quart

"Itu mungkin tampak ironis, tapi pemasaran antarteman didasari asumsi bahwa anak-anak sesungguhnya sangat Pandai. Mereka sangat paham dan sinis terhadap iklan, karenanya pemasar yakin bahwa cara terbaik mempengaruhi mereka adalah dengan melalui teman-temannya. Remaja tak akan percaya pada persuasi murahan dan muslihat iklan televisi' Tapi mereka tak akan mudah menghindar dari barang-barang yang dianjurkan temannya yang ngetop."
--Halaman: 44, Alissa Quart

"Tetapi penempatan produk dalam uideo game dan upaya mengelabui remaja tak ada hubungannya dengan kejujuran. Game, seperti banyak produk lain, bertujuan untuk membangkitkan hasrat remaja akan sebuah dunia 'sejati' yang ideal namun kenyataannya justru menyuguhkan mereka dunia bermerek."
--Halaman: 109, Alissa Quart

"Gagasan bahwa 'bentuk tubuh yang sempurna dan kesempurnaan estetik akan membawa kebahagiaan' bukanlah ide baru. Menurut sejarawan Joan Jacobs Brumberg' Pengarang buku The Body Project: An Intimate History of American Girls, gadis-gadis masa Victorian juga diajarkan untuk jadi gadis bertubuh paling menarik. Agar menarik,  mereka harus punya bentuk tubuh yang berbeda. Mereka mengenakan korset dan tampil lugu apa pun caranya. Pengorbanan yang harus mereka lakukan bisa jadi kelaparan, bekerja keras, mencukur, menindik dan mentato tubuhnya tetapi tidak menyerahkan keperawanannya."
--Halaman: 122, Alissa Quart

"Kita mungkin khawatir terhadap kegilaan anak-anak terhadap citra diri, kedewasaan, dan seksualitas, tapi tatanan sosial telah menciptakan kerergantungan ganda itu. Gadis dan wanita dilabeli identitas sesuai dengan barang yang mereka konsumsi. Mereka ingin membeli kemudian menjadi sosok sempurna seperti bintang media dan bintang film yang juga dipermak. Mereka juga menempati wilayah 'sesudah' dalam dongeng ala operasi kosmetik, penampilan 'sebelum' dan 'sesudah.' Dongeng yang terinsipirasi dari teknik periklanan primitif atau pujian hasil operasi plastik. Seperti yang dikatakan Carolyn, 'Aku nonton sesuatu di HBC tenrang operasi plastik lalu aku memutuskan untuk melakukannya'."
--Halaman: 125, Alissa Quart

"Saya pikir bahwa semua itu mempercepat internalisasi ideologi kelas menengah di kalangan remaja, yaitu pemujaan tubuh sempurna. Pierre Bourdieu menulis tentang perempuan kelas menengah Perancis tahun 1970-an, sebagai perempuan yang 'mencurahkan investasi yang demikian besar pada penolakan diri dan terutama terhadap waktu, untuk menyempurnakan penampilannya dan percaya tanpa syarat pada semua bentuk doktrin kosmetik (operasi plastik).' Deskripsi ini berlaku bagi remaja yang ingin menyempurnakan dirinya dan menyatakan idenrtitas kelas yang baru ditemukan melalui fashion dan tubuh bermerek."
--Halaman: 138, Alissa Quart

"Selama gadis remaja mengkonsumsi citra model yang mengkonsumsi produk kecantikan, selama itu pula mereka bersedia menukarkan kebutuhan makanan mereka dengan keinginan menjadi bagian elit fesyen."
--Halaman: 141, Alissa Quart

"Pemasar berhasil meyakinkan anak-anak 
itu akan kebutuhan aras atribut fisik tertentu, sedangkan kemampuan mereka sendiri harus dihilangkan. Bagi beragam subkultur remaja yang ingin melekatkan merek agar terlihat sama dengan postur kurus, bisep besar, hidung ras lain, dan payudara palsu, apa yang dianggap sebagai kebebasan kreasidiri sebenarnya bukanlah kebebasan yang hakiki. Apa yang mereka punya adalah pilihan konsumsi, bukan pengganti keinginan bebas."
--Halaman: 141, Alissa Quart

"Sekarang kita semua-dan terutama penulis remaja-terjebak dalam kehidupan bermerek. Pelekatkan merek pada remaja dan melihat dunia melalui kaca mata rangkaian produk bukanlah gurauan atau tren sesaat: ini kenyataan yang sungguh menyesakkan."
--Halaman: 181, Alissa Quart

*******************************

Judul : Belanja Sampai Mati
Penulis : Alissa Quart
Penerbit : Resist Book
Halaman (isi) : 224
ISBN : 979-3723-97-1

Apakah kamu sudah dicuciotak? 


Tiap tahun milyaran dolar digelontorkan korporasi untuk mempengaruhi konsumen remaja dan ABG. Upaya menguasai pikiran dan dompet remaja itu sekarang sudah pada taraf yang amat mencemaskan. Alissa Quart dengan sangat mendetail menghantarkan pembaca melihat sisi gelap pemasaran remaja. la menguraikan jalinan rumit yang saling berkaitan antara kaum muda, media, budaya pop, agen korporasi, dan budaya konsumen. Bagaimana remaja telah dimanipulasi oleh korporasi untuk menjadi konsumen atau konsumen masa depan sekaligus agen pemasar mereka. Proses cuci otak itu menjadikan semakin eratnya ketergantungan remaja pada merek. Pakaian yang mereka kenakan, kosmetik yang mereka pakai, bahkan sekolah yang ingin mereka masuki, semuanya harus bermerek.

Namun, komodifikasi budaya remaja itu mulai mendapat penentangan. Buku ini menunjukkan gerakan-gerakan perlawanan yang bermunculan di mana-mana. Biasa sebagai gerakan anti-merek atau anti-korporasi mereka tidak hanya difokuskan pada hal-hal yang sederhana seperti sub-budaya rock punk, namun juga menyasaryang lebih besar seperti korporasi.

Di negeri ini, di mana gejala-gejala konsumerisme terlihat secara mencolok dengan berdirinya mal-mal, maraknya waralaba-waralaba, menjamumya kafe-kafe, dan simbol-simbol budaya konsumen lainnya, buku ini sangat berharga tidak hanya sebagai telaah kritis atas apa yang melanda masyarakat kita, khususnya generasi muda sekarang, namun bisa juga menjadi panduan bagaimana menanggapinya.

'Bagi pembaca yang masih menunggu lanjutan No Logo karangan Naomi Klein, inilah buku tersebut' --Publisher's Weekly

Posting Komentar

0 Komentar