Aku ingin menjadi mahasiswa dan demonstran

Semasa masih kelas XII SMA, aku yang kerjaannya keluyuran mabok tengah malam, tiduran di aspal, main Point Blank atau Dragon nest di warnet, membolos sekolah, tiba-tiba dikejutkan oleh satu demo demo. Masih jelas dalam ingatanku, berita itu menyiarkan sekelompok mahasiswa yang menghadiri rapat di kantor DPR Pusat. Aku tak tahu pembahasan DPR pada waktu itu.Yang paling membekas di ingatanku dari berita itu adalah sekelompok mahasiswa yang berada di lantai dua tengah menyaksikan rapat DPR dilantai satu.

Sekelompok mahasiswa itu adalah perwakilan dari beberapa organisasi, karena almamater mereka masing-masing berbeda warna. Saat rapat sidang hendak selesai, sekelompok mahasiswa tersebut mulai berteriak lantang memprotes hasil rapat sidang yang dilakukan oleh DPR.Aku yang pada waktu itu seorang diri menonton tivi di ruang keluarga seketika terpukau pada sekelompok mahasiswa tersebut.

Rapat rapat tersebut dengan kesimpulan pengesahan undang-undang (seingatku). Aparat mulai pasukan sekelompok mahasiswa tersebut untuk meninggalkan lantai dua. Mereka keras bekerja, mereka melakukan saling mengunci menggunakan sikut. Aparat keamanan pun tenaga yang mendorong dan menarik mereka.

"Dewan Penghianat Rakyat" Teriakan itu tidak akan pernah bisa aku bayangkan. Teriakan yang selalu menjadi penyemangat untuk menyandang status mahasiswa.

Saat mereka tengah meneriakan suara protes dari dalam gedung DPR, ratusan bahkan dari teman-teman mereka melakukan hal yang sama di luar gedung DPR. Suatu pemandangan yang indah dinikmati pada saat itu. Aku yang tidak pernah muncul untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seketika terilhami oleh perjuangan mahasiswa yang memperjuangkan rakyat. Aku ingin sekali seperti mereka.

Setelah menonton berita tersebut, saya ingin menjadi seorang mahasiswa dan seorang demonstran. Dari sinilah awal aku memulai petualangan kampus yang berliku-liku. Mengarungi berbagai pengetahuan sebagai bekal untuk menjadi seorang demonstran yang ulung.

Aku mulai mencari tahu tentang kampus-kampus yang paling sering melakukan demonstrasi. Satu kampus negeri di kota Makassar menjadi pilihan utamaku. Mahasiswa di kampus itu sangat terkenal kritis dan aktif berdemonstrasi. Tekadku bulat untuk menjadi mahasiswa di kampus itu.

Tahun yang sama saat lulus SMA (Tahun 2012), saya mendaftar SBMPTN. Tiga jurusan pilihan aku pilih di kampus Negeri itu. Aku mengambil Jurusan PGSD, EKONOMI dan AKUNTANSI. Hasilnya nihil, aku tidak lulus. Semangatku pada waktu itu tidak memulai untuk menjadi seorang mahasiswa.

Satu tahun kemudian aku kembali mendaftar SBMPTN. Tiga jurusan pilihan, kembali aku pilih di kampus itu. PGSD, OLAHRAGA dan AKUNTANSI. Hasilnya tetap sama, nihil. Saya tidak lulus.

Keluargaku mulai pesimis melihat keadaanku. Kerjaku hanya keluyuran tengah malam. Mabuk-mabukan. Dan hal-hal buruk lainnya. Bahkan aku sempat hendak dikirim ke papua untuk bekerja di sana. Kala itu sebagai manusia yang punya cita-cita menjadi seorang demonstran, air mataku tak dapat kubendung. Aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku menangis pada saat itu.

Di tahun ketiga, tahun terakhir aku bisa mendaftar SBMPTN, aku memilih jurusan PGSD, SENDRATASIK dan EKONOMI. Semua jurusan kembali aku pilih di kampus itu. Di sinilah nasibku dipertaruhkan. Tak lulus, berarti aku harus merantau. Namun hasilnya tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku lulus di jurusan PGSD di kampus itu. Tekadku untuk menjadi seorang mahasiswa dan demonstran akan tercapai.

Keluarga pada saat itu tidak menyangka aku bisa lolos di kampus itu. Dengan otak sebodoh ini, ternyata saya bisa kuliah di kampus negeri yang sangat saya inginkan. Kebiasaanku yang hanya begadang main game di warung internet, mabuk-mabukan di pos depan pasar, membuat keluarga pesimis. Aku buktikan bahwa aku akan menjadi mahasiswa.

Dua kakakku kuliah di kampus itu. Kakak pertamaku kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan. Sedangkan kakak keduaku kuliah di Fakultas Bahasa dan Sastra. Aku sendiri lulus di Fakultas Ilmu Pendidikan.

Tiga kali pendaftaran SBMPTN membuat kampus itu takluk dan akhirnya juga meminta maaf. Aku diterima menjadi seorang mahasiswa.

Setelah tes wawancara untuk melihat nominal UKT, saya sempat dibuatkan terheran-heran oleh nominal UKT yang dapat saya buat. Di warung internet aku terperangah dan dibuat sedikit takut. Nominal UKT ku Rp. 0,-. Saya sempatkan bahwa aku batal diterima di kampus itu. Aku menghubungi admin dan mempertanyakan maksud nominal UKT tersebut. Kata admin, saya tidak dipungut biaya sepeserpun untuk kuliah di kampus itu.

Dengan penuh haru dan bahagia aku mencetak nominal UKT itu kemudian membawanya pulang ke rumah. Aku menjelaskan nominal UKT tersebut kepada keluarga kemudian menjelaskan bahwa aku tidak dipungut biaya apapun.

Keluarga tidak mengira rezeki datang bertubi-tubi saya. Selalu ada jalan yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya yang punya tekad besar.

Posting Komentar

0 Komentar