Kutipan Okky Madasari - Kerumunan Terakhir
--12
Aku tak suka dengan mahasiswa-mahasiswa aktivis yang kritik sana kritik sini, diskusi di sana diskusi di sini, menulis di koran, pidato dimana-mana, dan ujung-ujungnya merasa telah jadi pahlawan. Apa mereka benar-benar peduli dengan orang-orang miskin yang kelaparan? Apa mereka benar-benar tahu bagaimana hidup petani, buruh, orang-orang miskin di desa-desa? Aaah...!
--39-40.
Betapa kasihannya anak-anak zaman sekarang ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah dibuat haus perhatian. Semua ingin disukai, semua ingin punya banyak pengikut, semua ingin terlihat dan dikenal. Apa lagi yang lebih menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita di tangan orang lain?
--172
",...sebagus apapun kata-kata, tak akan ada maknanya jika yang mengucapkan bukan siapa-siapa."
--211
Dunia masa depan dan dunia masa lalu. Manusia baru dan manusia kolot. Dua kehidupan yang digambarkan oleh penulis.
--BPA
"Dunia baru justru harus memunculkan kita. Bukan membuat kita tenggelam dan hilang, dimatikan oleh nama-nama samaran yang kita ciptakan." (Maera)
--237.
"Tulisan Maera di halaman 241-244 menggugat keadaan perempuan yang sungguh sangat berbeda dengan keadaan laki-laki. Perempuan dikungkung oleh banyak ketakutan yang ilusif, ketakutan yang dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab."
--BPA
"Apa artinya sekolah, kampus, yang dihormati banyak orang, kalau pengajar-pengajarnya bahkan pemimpin-pemimpinnya orang bejat?" (Sundari)
--338.
------------------------------
Hidup di dunia maya membuat Jaya Negara, yang kerap disapa Jay, merasa lebih hidup ketimbang hidup di dunia nyata. Ia merasa lebih dihargai di dunia baru tersebut. Dunia maya telah melahirlan Jaya Negara dalam versi Mata Jaya yang sungguh berbeda. Jika Jaya Negara adalah seorang pecundang, seorang pemgangguran yang numpang hidup di bawah ketek bapaknya yang seorang profesor, maka beda hal dengan Mata Jaya.
Mata Jaya adalah Jaya Negara dalam versi dunia maya. Mata Jaya banyak berkisah mengenai dirinya. Tentu saja semua hal tentamg dirinya hanya sekadar bualan semata. Mata Jaya tidak mengisahkan Jaya Negara. Mata Jaya justru menciptakan sejarah tersendiri melalui bualan-bualannya.
Perdebatannya dengan Maera, pacarnya sendiri, mengenai dunia baru membuat Jaya Negara merasa terhinakan. "Dunia baru justru harus memunculkan kita. Bukan membuat kita tenggelam dan hilang, dimatikan oleh nama-nama samaran yang kita ciptakan." ucap Maera di halaman 237.
Pada akhirnya saat mereka berdua hendak kabur dan menghilang dari dunia baru tersebut, mereka tetap saja bertemu oleh kerumunan yang mengenali mereka di dunia baru. Dunia baru telah membuat Jaya Negara dan Maera dikenal oleh khalayak ramai yang turut serta hidup dalam dunia tersebut. Jalan yang mereka berdua pilih untuk menghilang dari dunia baru tersebut, ternyata keliru. Dunia baru itu telah hidup di dunia lama. Dunia maya telah hidup di dunia nyata.
Posting Komentar
0 Komentar