Eko Prasetyo
Kutipan Eko Prasetyo - Bergeraklah Mahasiswa
Di sini hanya berisi kutipan. Secuil dari seluruh isi buku. Jangan mudah silau oleh kutipan. Selami bukunya dan pahami sendiri makna tiap kalimatnya. Semoga kutipan dalam buku ini bisa memotivasi pembaca untuk membaca sendiri isi buku yang disajikan di sini.
Selamat membaca.
☺️☺️☺️
"Gunakan sedikit untuk diri kalian sendiri, tetapi berikan yang banyak untuk orang lain."
--Albert Einstein
"Kekacauan adalah tetangga Tuhan."
--Erik Johan Staglenius
"Saat kita merasa takut, semua hal menjadi rumit."
--Sophocles
"Muda atau tua tidak bergantung pada tanggal dalam suatu masa, tapi keadaan jiwa. Tugas kita bukan menambah usia pada kehidupan, tapi menambah kehidupan pada usia..."
--Myron J. Tylor, Halaman: 1
"Lihatlah pelangi tidak semua hal dalam hidup ini hanya terdiri atas satu warna saja."
--Paulo Coelho, Halaman: 1
"Ketenangan yang membuat kita terlena mungkin lebih berbahaya daripada ribut yang membuat kita terus terjaga."
--Billi S. Pilim, Halaman: 1
"Keyakinan tanpa akal sehat terhadap otoritas adalah musuh kebenaran yang paling buruk."
--Albert Einstein
"Rektor masuk penjara bukan karena punya gagasan yang berbahaya, tapi mereka curi uang kampus seenaknya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 3
"Saya selalu meyakini kuliah itu bukan untuk mendapat gelar sarjana tapi pintu untuk menikmati pengalaman yang luar biasa."
--Eko Prasetyo, Halaman: 6
"Kawan yang kini jadi politisi memberi ilham pada saya soal penghianatan dan konsistensi."
--Eko Prasetyo, Halaman: 8
"Saya selalu merasa yakin bahwa dunia ini yang membentuk dasar pengetahuan dan kecakapan banyak anak muda."
--Eko Prasetyo, Halaman: 9
"Mahasiswa bukan kumpulan anak muda yang tergerak untuk sekedar jadi sarjana, tapi juga penggerak petualangan yang beresiko dan bahaya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 10
"Pikiran adalah bunga; ujaran adalah kebencian; dan tindakan adalah buah di dalamnya."
--Ralph Waldo Emerson, Halaman: 12
"Aku tidak mengajarkan kekerasan, tetapi apabila jempol kakiku diinjak, aku wajib membalasnya."
--Malcolm X, Halaman: 12
"Tak ada dunia yang diciptakan yang menerangi jalannya guntur."
--Holderlin, Halaman: 12
"Siapa yang mengatakan langit biru, padahal sebenarnya setengah kelabu telah melacurkan kata-kata dan mempersiapkan diri untuk berlaku tiran."
--Albert Camus, Halaman: 12
"Kita semua adalah benang yang rapuh, tapi bisa membuat permadani yang indah."
--Jerry Ellis, Halaman: 12
"Mahasiswa mirip kawanan domba yang digiring sesuai keinginan aparat kampus."
--Eko Prasetyo, Halaman: 13
"Kelas bukan tempat orang berdoa dimana yang ada hanya diam dan mengangguk-ngangguk."
--Eko Prasetyo, Halaman: 13
"Pelataran kampus jadi tempat untuk membawa bukti: ketidakadilan jadi landasan protes, perkara kemanusiaan dihidangkan dan gugatan atas ketimpangan disuarakan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 14
"Puisi, gitar dan buku adalah senjatanya. Lewat puisi rayuan itu bicara dengan kata-kata indah yang berterbangan. Gitar membuat cinta jadi sebuah jembatan melodi. Kemudian buku membuat cinta seperti sebuah lembaran cerita yang tak habis-habisnya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 15
"Cinta kami pada keadilan membuat kami kerapkali menggugat tatanan. Cinta kami unthk kebenaran membuat kami bertarung melawan kezaliman. Cinta kami pada kemanusiaan membuat kami mudah sekali bangkit nyalinya saat melihat ketimpangan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 15
"Padahal kehidupan sekelilingmu sedang tak berjalan normal. Jika kau perhatikan lebih dalam: situasi sosial lagi berjalan tidak wajar. Rupiah terbanting, PHK dimana-mana, harga makan melompat jauh hingga tanah rakyat banyak dirampas."
--Eko Prasetyo, Halaman: 16
"Yang kaya berkumpul bersama dengan yang kaya dan orang miskin gabung bersama yang miskin? Yang bodoh bersama yang bodoh dan yang pintar bareng yang pintar. Patutkah kelas dipertahankan dengan cara seperti itu?"
--Eko Prasetyo, Halaman: 17
"Seperti benih, pikiran mereka dirawat melalui tiga dunia: dunia pergerakan, pendidikan dan pergaulan. Pergerakan mengajarkan arti pengorbanan, pendidikan menanam budaya pengetahuan dan pergaulan mencipta solidaritas. Tiga-tiganya menempa jiwa membentuk pengalaman dan meneguhkan keberanian."
--Eko Prasetyo, Halaman: 18
"Kamu bukanlah apa yang kamu capai tapi apa yang kamu impikan untuk kamu capai."
--Kahlil Gibran, Halaman: 19
"Kampus hanya padat dengan kuliah, aturan dan pelatihan menjadi jutawan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 20
"Demokrasi memang 'dari rakyat' tapi tidak 'untuk rakyat' apalagi 'apalagi oleh rakyat'."
--Mancur Olson, Halaman: 24
"Mustahil kemajuan terjadi tanpa perubahan, dan mereka yang tidak merubah pikiran, tidak bisa mengubah apapun."
--George Bernard Shaw, Halaman: 25
"Perubahan apapun sekalipun demi kebaikan, selalu disertai dengan penolakan dan ketidaknyamanan."
--Arnold Bennet
"Jika kau ingin membangun kapal, jangan mengerahkan orang untuk mengumpulkan kayu dan jangan memberi mereka tugas dan pekerjaan. Ajarkanlah mereka untuk merindukan samudra yang tak bertepi."
--Antoine de Sant-Exupery, Halaman: 25
"Jangan lupa matahari yang indah itu memerlukan langit berawan."
--Paulo Coelho, Halaman: 25
"Bakat ibarat penembak yang mengenai sasaran yang tak dicapai orang lain: genius ibarat penembak yang mengenai sasaran yang tak dilihat orang lain."
--Arthur Schopenhauer, Halaman: 25
"Nilai dan kuliah seperti pasangan yang tak terpisahkan: kau harus datang kuliah pasti dapat nilai buruk dan kau rajin kuliah niscaya akan peroleh nilai baik."
--Eko Prasetyo, Halaman: 26
"Tanpa imajinasi takkan mungkin para genius itu membuat prestasi besar."
--Eko Prasetyo, Halaman: 26
"Mereka yang biasa hidup dengan moralitas ketaatan: datang kuliah tepat pada waktunya, menjawab soal sesuai dengan yang ada di buku, patuh pada semua aturan yang ditulis oleh kampus."
--Eko Prasetyo, Halaman: 27
"Para genius hidup dalam suasana yang tak nyaman dengan keadaan yang tak selalu mudah. Resiko merupakan bagian utuh dari kehidupan para genius: Michael Angelo hingga Maria Cutie. Maka sikap membangkang dengan balutan kegagalan telah jadi lingkar hidup para genius."
--Eko Prasetyo, Halaman: 28
"Pemberontakan kecil sesekali adalah hal yang bagus."
--Thomas Jefferson, Halaman: 28
"Anak yang pada masa kuliah berurusan polisi untuk urusan membangkang pada pemerintah tentu dan sudah pasti bukan anak penurut kuliaj. Singkatnya ini anak pasti punya pikiran yang berbeda dan keinginan menantang arus zaman. Kreativitas meledak pada jenius-jenius beginian."
--Eko Prasetyo, Halaman: 28
"Rajin sekolah pasti pintar. Keyakinan ini tak pernah diperdebatkan. Lama-lama keyakinan ini menjalar pada yang pintar pasti patuh. Yang patuh pasti berhasil."
--Eko Prasetyo, Halaman: 29
"Membangkanglah yang membikin semuanya jadi berubah dan membuat semua hal jadi berbeda hasilnya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 29
"Tiap orang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar serta tindakannya mencerminkan apa yang orang banyak lakukan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 31
"Jika kau tidak menyibukkan diri untuk memperbaharui diri maka kau akan disibukkan oleh kehancuran."
--Seteve Jobs, Halaman: 33
"Kaum pemberontak yang tidak percaya pada keadaan dan selalu menciptakan gairah imajinasi dalam hidupnya akan selalu membawa pengaruh yang luas dan mendalam. Manifesto Steve Jobs 'Bersudang untuk mereka yang gila, lain, tukang berontak, biang onar, aneh sendiri'."
--Eko Prasetyo, Halaman: 34
"Pengetahuan itu bukan himpunan doktrin yang dipercaya, diyakini dan dihapalkan: melainkan landasan untuk mengembangkan minat-minat baru. Itulah tugas paling terdepan kampus: mengembangkan watak intelektual dalam diri mahasiswanya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 35
"Negara ibarat rumah jagal besar dan kuburan luas, yang dibawah bayang-bayang dan dalih abstarksi ini (kebaikan bersama), semua aspirasi terbaik, semua daya hidup di suatu negeri, secara munafik dikorbankan dan dikuburkan."
--Bakunin, Halaman: 35
"Sistem jahat: curi yang bisa dicuri dan matikan yang berusaha memadamkan gejala ini."
--Eko Prasetyo, Halaman: 35
"Pengalaman organisasi, mengikuti kompetisi, mengorganisir warga hingga melakukan advokasi untuk membela soal-soal kemanusiaan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 36
"Makin banyak kamu terlibat dalam soal-soal di luar kepentingan dirimu, apalagi mampu untuk sibuk dalam soal-soal kemanusiaan, maka kamu akan terlatih untuk berpikir dan merasa."
--Eko Prasetyo, Halaman: 36
"Maka tiap pengalaman yang berhasil diraih, tetap tak boleh membutakan kita, terus menerus menjaga jarak secara kritis, sebab kepuasan itu akan membawa kita pada kematian ide-ide segar. Selamanha ide-ide segar menjadi api dalam lingkungan kampus, maka kita membutuhkan sebuah cara agar percikan api itu terus menjalar."
--Eko Prasetyo, Halaman: 37
"Nilai tinggi itu hanya sebuah 'pernyataan unggul' untuk sementara. Esok kamu bisa 'bertahan atau jatuh' kamu kehilangan kekuatan empatik, simpati dan rasa yang populer dengan nama 'berkabung'."
--Eko Prasetyo, Halaman: 39
"Seluruh hidup kita sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan-praktis, emosional dan intelektual - yang terorganisasi secara sistematis demi suka cita ataupun duka cita, dan tak pelak menggiring kita menuju takdir kita, apapun itu."
--William James, Halaman: 39
"Jika kita tidak bisa menebak apa yang akan datang, paling tidak kita punya hak untuk membayangkan masa depan yang kita inginkan."
--Eduardo Galeano, Halaman: 41
"Orang yang mendidik anak-anak muda harus menyediakan tempat untuk maaf, supaya dirinya tidak terlihat kaku karena terlalu banyak marah."
--Plato, Halaman: 41
"Hidup macam apa ini
Di taman yang gelap orang menjual badan
Agar mulutnya tersumpal makan
Di hotel yang mewah istri guru menjual badan
Agar pantatnya dijanggal sedan."
--Rendra, Halaman: 41
"Hidup ini suatu perjalanan, tergantung bagaimana kita menempuhnya. Kita hanya bisa mengikuti arus atau mengejar mimpi-mimpi kita."
--Paulo Coelho, Halaman: 41
"Organ yang didirikan untuk memberi dasar-dasar pengetahuan gerakan dengan memberi keterampilan dasar seorang aktivis. Di sana diajarkan cara membaca keadaan, dilatih bagaimana menyatakan gagasan dan diberi bekal keberanian. Kuingin bicarakan yang terakhir ini karena mungkin itulah yang membuatmu layak dipanggil mahasiswa."
--Eko Prasetyo, Halaman: 43
"Semua tahu organisasi mahasiswa itu mutlak dan penting. Mutlak karena hanya organisasi yang melatih kematangan, pendirian dan sikap politik mahasiswa."
--Eko Prasetyo, Halaman: 43
"Ketika ada kasus korupsi yang membesar di lingkungan kekuasaan tak mungkin mahasiswa hanya mengeluh dan menggerutu saja. Organisasi jadi corong untuk latihan bersikap dan berontak. Itu sebabnya organisasi jadi penting karena melaluinya mahasiswa dilatih berpikir idealis. Pikiran yang memastikan kebenaran itu benat dan kesalahan harus dilawan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 43
"Kuliah seperti kegiatan baris-berbaris. Tertib, teratur dan seragam."
--Eko Prasetyo, Halaman: 44
"Mereka ini tak percaya kalau kuliah itu hanya berisikan kegiatan datang, dengarkan dan pulang. Jika kegiatan mahasiswa hanya seperti itu apa bedanya dengan anak TK."
--Eko Prasetyo, Halaman: 44
"Aku tidak melihat alasan
Kenapa harus diam tertekan san termangu
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka."
--Rendra, Halaman: 45
"Keinginan untuk mengubah membuat tiap aktivis punya rasa percaya diri bahwa mereka bukan sekedar mahasiswa yang merindukan gelar. Tujuan mereka kuliah bukan lagi jadi sarjana. Kuliah hanya pintu menuju petualangan yang lebih gegap gempita. Jika mereka kuliah tentang hukum maka bukan pasal yang dihapal tapi ketidakadilan seperti apa yang harus dilawan. Seandainya mereka kuliah kedokteran bukan hapalan nama penyakit dan nama obat. Tapi bagaimana ilmu medis bisa membebaskan tiap orang yang dibelenggu oleh penyakit dan tekanan rumah sakit. Itu pula yang terjadi pada mahasisaa pendidikan. Tidak mempelajari metodologi dan materi pembelajaran tapi bagaimana membuag pendidikan jadi sarana perlawanan dan penyadaran. Pengetahuan itu bukan sederet dogma tapi dasar untuk melakukan praktek pembebasan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 46
"Tiap tuntutan itu mewakili semangat kolektivitas mahasiswa untuk mengukuhkan solidaritas, kepedulian dan tegaknya nilai-nilai keadilan. Sebuah nilai yang rasanya pantas dan patut diperjuangkan. Terutama disaat mana nilai keadilan mudah dirobohkan. Saat mana keadilan jadi mudaj dimanipulasi, diabaikan dan diselewengkan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 46
"Hanya mahasiswa yang punya alasan bersejarah yang tepat: mendobrak tatanan yang ditaklukkan oleh penguasa modal sembari mengajak banyak orang untuk terlibat."
--Eko Prasetyo, Halaman: 50
"Mereka punya pengalaman memimpin, berunding hingga meyakinkan idenya pada banyak pihak. Keterampilan semacam itu hanya diperoleh dalam dunia gerakan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 51
"Melatih anak-anak muda untuk beraktivitas sosial tak hanya bisa mematangkan kedewasaan tapi juga membentuk sikap mereka untuk percaya pada cita-cita besar kemanusiaan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 52
"Tradisi yang langka dan lemah: menulis dan membaca. Tabiat ini makin lama makin berkurang dan itu yang membuat gerakan mahasiswa mengalami defisit ide-ide imaginatif. Padahal produksi ide-ide segar bisa terakumulasi kalau praktek pengetahuan melalui menulis, membaca dan diskusi dirayakan secara sungguh-sungguh."
--Eko Prasetyo, Halaman: 55
"Dalam berpikir setiap orang menjadi sendirian dan lambat."
--F. Budi Hadiman, Halaman: 55
"Pikiran-pikiran terbuka, segar dan menerobos bisa muncul kalau gerakan dialiri oleh kebebasan dan imajinasi pengetahuan yang kaya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 57
"Aktivis gerakan pada prinsip ideal: belajar pada rakyat, hidup bersama mereka dan berjuang untuk mereka."
--Eko Prasetyo, Halaman: 57
"Membuat ikatan antar anggota gerakan tidak hanya berpusat selama kepengurusan tapi terawat secara terus-menerus dalam kehidupan berikutnya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 57
"Maka untuk menunaikan semangat itu gerakan mahasiswa waktunya untuk terus-menerus belajar untuk berpikir serius ketimbang sekedar memberi komentar. Berpikir serius membuat gerakan mahasiswa terlatih mengembangkan kebiasaan baru: bertindak atas dasar komitmen bukan atas dasar karena suka melakukannya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 58
"Mengajar, bukan lagi untuk mengajarkan apa yang diyakini. Melainkan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan serta kebodohan-kebodohan yang dipandang sebagai berguna dan mereka yang memerintahkannya."
--Bertrand Russel, Halaman: 60
"Apa saja yang membakar dan membuat orang lain terbakar adalah berguna."
--Gibran, Halaman: 60
"Ingatlah selalu: sebuah buku, sebuah pulpen, seorang anak dan seorang guru dapat mengubah dunia."
--Malala Yousafzai, Halaman: 60
"Apabila kau berhenti berubah, berarti kau sudah selesai."
--Benjamin Franklim, Halaman: 60
"Sadar atau tidak kamu telah membuat kuliah jadi kegiatan yang lazim dan rutin. Rutinitas yang menciptakan mahasiswa dalam keseragaman bukan keragaman. Kelaziman yang membuat mereka punya cita-cita serupa bukan aneka rupa.'
--Eko Prasetyo, Halaman: 66
"Mahasiswa itu bukan pasukan iblis yang mudah berbuat alpa dan dusta. Mahasiswa juga bukan orang yang hidupnya harus menyelamatkan urusan dirinya sendiri katakan dengan pengetahuanmu bahwa mahasiswa itu punya legenda dan ikatan. Legenda bahwa dirinya adalah kekuatan pengubah sejarah. Dan ikatan dengan mereka yang ditindas dan dilukai. Itu sebabnya sirami mereka dengan pengetahuan yang kritis melalui petualangan dan bacaan. Daya kritis membuat mereka tak mudah dipompa oleh prasangka dan petualangan dapat memberi mereka keberanian menentang kemapanan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 67
"Dosen bagiku seperti yang dulu kukenal: petualang yang bisa meyakinkan pada mahasiswa untuk berani mengubah keadaan, pemikir yang terus mengilhami mahasiswa agar bisa punya gagasan yang berbeda dan pejuang yang terus menjadi tauladan karena sikap serta keberpihakannya."
--Eko Prasetyo, Halaman: 68
"Bagi mereka hidup tidak sekedar bersandar pada apa yang dimiliki. Hidup adalah perjalanan yang penuh berkah dan resiko."
--Eko Prasetyo, Halaman: 70
"Saya tidak mau menjadi manusia yang takut bertindak demi melindungi prinsip-prinsip yang saya pegang... Bagi saya integritas seseorang sejatinya dinilai bukan dari pengakuannya mengenai apa yang dia yakini, melainkan dari tindakan yang dia lakukan demi melindungi keyakinan itu... Sebab kalau kita tidak mewujudkan keyakinan kita dengan tindakan nyata, barangkali itu cuma keyakinan abal-abal... karena kita sendirilah yang memberi hidup kita makna, lewat tindakan-tindakan kita dan narasi-narasi yang kita ciptakan."
--Snowden, Halaman: 71
"Hal-hal yang paling penting
Tidak pernah boleh berada di bawah kekuasaan
Hal-hal yang paling tidak penting."
--Joze Rizal, Halaman: 73
"Aku yakin bahwa penataan masyarakat yang ada sekarang ini buruk, aku ingin berjuang melawannya untuk mempercepat pelenyapannya. Kuhadirkan dalam perjuangan ini suatu kebencian mendalam, yang diperkeras setiap harinya oleh pemandangan yang memuakkan suatu masyarakat dimana segalanya dangkal, segalanya pengecut, dimana segala sesuatunya menjadi penghalang bagi perkembangan hasrat-hasrat manusia... aku ingin menunjukkan pada kaum borjuis bahwa kenikmatan mereka terganggu."
--Joze Rizal, Halaman: 73
"Kemerdekaan tak pernah diberikan, musti ada perjuangan berapi-api dan pemberontakan yang susul-menyusil. Tapi tak selamanya pemberontakan itu dengan mengangkat senjata. Peluru itu memang membunuh tapi kekuatannya tak seampuh pena. Ada saatnya pena menjadi kekuatan yang berharga."
--Eko Prasetyo, Halaman: 73
"Kepriyaian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantri cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya." (Minke)
--Pramoedya Ananta Toer, Halaman: 74
"Berkalang dengan banyak persoalan kemanusiaan mereka berupaya untuk meneguhkan apa yang terus disia-siakan. Keadilan yang dicoreng kekerasan yang ditabur hingga kesejahteraan yang jadi retorika: membuat mereka gundah (Aktivis)"
--Eko Prasetyo, Halaman: 74
"Tapi keyakinan mereka itu membawa sikap teguh, mau dipenjara, tak gentar ketika disiksa dan bisa jadi tewas memeluk keyakinan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 74
"Kini lawan kita bukan penguasa bengis tapi situasi yang membuat kita saling konflik satu dengan yang lain."
--Eko Prasetyo, Halaman: 75
"Setiap detik yang kita habiskan untuk mimpi orang lain berarti menyia-nyiakan untuk mimpi kita sendiri."
--Yogi Roman, Halaman: 75
"Petuah kuno dan datar: Kepatuhan adalah tangga menuju keberhasilan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 76
"Jangan sampai jam dan kalender membutakan kita terhadap fakta bahwa setiap momen kehidupan merupakan keajaiban dan misteri."
--Novelis, Halaman: 76
"Segala hal yang hidup, tidak hidup sendirian, tidak untuk dirinya sendiri."
--William Blake, Halaman: 76
"Egoisme bukan sandaran hidup manusia, tiap diri dititahkan untuk membantu dan membela sesama."
--Eko Prasetyo, Halaman: 76
"Wangi mawar selalu tertinggal di tangan yang memberimu mawar."
--Petuah Cina, Halaman: 76
"Seolah cara paling maju dalam membangun tak lain adalah mengusir orang miskin dari tempatnya sehari-hari."
--Eko Prasetyo, Halaman: 77
"Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk dalam mulut manusia, yang buruk adalah yang keluar dari mulut manusia."
--Kisah Alkemis, Halaman: 77
"Dalam perjuangan demi cita-cita, kita berhadapan dengan penipu, pengiri dan orang yang tidak cakap. Orang yang teguh tidak akan peduli pada mereka dan tidak akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk memperhitungkan mereka. Sebab barang siapa berjalan menuju cahaya, tidak perlu cemas tentang apa yang terjadi dal kegelapan."
--Ennio Amarali, Halaman: 77
"Pemuda adalah mereka yang merasa diri siap terjun dalam suatu pergerakan yang maha besar untuk merebut kemerdekaan. Mereka menikmati suasana penuh romantisme, penuh utopisme, dan petualangan. Pada masa itu dengan sengaja mereka berambut gondrong untuk menandakan bahwa mereka manusia istimewa."
--Eko Prasetyo, Halaman: 78
"Seluruh hidup kita, sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan."
--William James, Halaman: 79
"Dalan ketakutan pikiran-pikiran kita yang tampak selalu hambatan, tetapi dalam sikap yakin pikiran-pikiran yang tampak adalah keselamatan."
--Ir. Sukarno, Halaman: 81
"Sekaranglah saatnya, sebab suatu hari anda akan bangun dan mendapati sudah tak ada waktu lagi untuk melakukan apa yang tampak adalah kesempatan."
--Paulo Coelho, Halaman: 81
"Kearifan berhenti menjadi kearifan ketika terlalu congkak untuk menangis, terlalu muram untuk tertawa dan terlalu mementingkan diri-sendiri untuk mencari yang lain dari dirinya sendiri."
--Kahlil Gibran, Halaman: 81
"Hidup seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus tetap bergerak."
--Albert Einstein, Halaman: 81
"Kreativitas mewajibkan kita untuk selalu bersedia untuk tidak patuh."
--Albert Einstein, Halaman: 82
"Prinsip sekolah Pestalozzi: seorang anak harus dibina 'martabat batiniahnya'. Biarkan murid mencapai kesimpulannya sendiri dengan melalui serangkaian langkah:
1. Observasi langsung
2. Intuisi yang mengawalnya
3. Pikiran konseptual yang mendasari
4. Gambarkan itu semua secara visual"
--BPA, Halaman: 85
"Pemahaman visual adalah hal terpenting dan merupakan satu-satunya cara menilai sesuatu dengan benar."
--Pestalozzi, Halaman: 85
"Orang yang punya pengetahuan hanya bisa mengakali dan meracuni pandangan satu sama lain."
--Albert Einstein, Halaman: 85
"Penghormatan batu terhadap kekuasaan adalah musuh terbesar kebenaran."
--Albert Einstein, Halaman: 87
"Pengetahuan atas hukum alam bagiku akan mendekatkan pada Tuhan."
--Einstein, Halaman: 89
"Kekerasan selalu akan melahirkan kekerasan."
--Albert Einstein, Halaman: 90
"Kebebasan adalah dasar penting untuk lahirnya semua nilai yang baik."
--Albert Einstein, Halaman: 90
"Perasaanku paling indah yang bisa kita rasakan adalah perasaan misterius."
--Albert Einstein, Halaman: 91
"Ilmu pengetahuan tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta."
--Albert Einstein, Halaman: 91
"Seorang manusia bisa bertinduk semaunya tetapi bukunya seperti yang dia mau."
--Schopenhauer, Halaman: 92
"Usaha manusia yang paling penting adalah memperjuangkan moralitas dalam tindakan. Hanya moralitas dalam tindakan kitalah yang membuat hidup kita indah dan bermartabat."
--Albert Einstein, Halaman: 92
"Semoga budaya kehidupan mekar dan berjaya atas kekerasan, kepongahan, hinaan dan kebodohan."
--Heidi Guilani, Halaman: 96
"Di antara beberapa kebebasan dasar yang seorang sangat inginkan agar kehidupannya utuh dan tak menderita, maka terbebas dari rasa takut adalah tujuan sekaligus alat untuk mencapainya."
--Aung San Suu Kyi, Halaman: 96
"Di dalam satu ruangan dengan orang-orang seperti bersepakat melakukan persekongkolan diam, satu kata saja yang menyuarakan kebenaran akan terdengar seperti satu tembakan pistol."
--Cleslaw Milosz, Halaman: 96
"Jika kekejaman berdalih pada sesuatu yang tidak bisa dinalar maka tindakan yang muncul selalu berada di luar akal."
--Eko Prasetyo, Halaman: 104
"Kalau seni yang indah tidak menyingkapkan gagasan moral, gagasan yang menyatukan orang, itu bukanlah seni, hanya hiburan. Orang perlu dihibur untuk menjauhkan mereka dari kekecewaan dalam kehidupan."
--Immanuel Kant, Halaman: 108
"Bukan karena perjuangan kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang."
--Albert Camus
"Setiap kesusastraan adalah propaganda, tapi tidak setiap propaganda itu kesusastraan."
--Lu Hsun
"Hal yang sangat bernilai adalah intuisi."
--Albert Einstein
"Pada masa Shakespeare, tujuan hidup warga negara biasa, buat semua orang kecuali bangsawan, bukanlah meningkatkan harkat hidup, tapi mempertahankan harkat yang sudah ada."
--Robert L. Heilbrorner, Halaman: 108
"Kebenaran lebih gampang muncul dari kesalahan daripada dari kebingungan."
--Francis Bacon, Halaman: 108
"Hanya dengan jalan membaca roman orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sajak orang dapat mengenal pelbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan."
--Sjahrir, Halaman: 108
"Memang bentuk adalah indah, jika mengandung gagasan di dalamnya. Apa gunanta dahi yang cantik jika tiada otak di baliknya?"
--Maxime Ducamp, Halaman: 111
"Karya seni bukan hanya jembatan realitas melainkan suara pemberontakan."
--Eko Prasetyo, Halaman: 111
"Kewajiban setiap orang hidup untuk mengatasi segala yang dihadapkan padanya, mengatasi dengan simpatik, dan saling memberi kesempatan."
--Djamin, Halaman: 112
"Kerendahan hati, keyakinan dan peneguhan sikap merupakan landasan jiwa sastrawan."
--Putu Wijaya, Halaman: 113
"Pekerjaan seorang seniman senantiasa harus dilakukan di tengah-tengah dunia yang penuh masalah-masalah... Dan seniman tak dibutuhkan lagi. Seandainya nanti 'dunia sempurna'."
--Komitmen sosial kaum seniman, Halaman: 113
"Menulis bukan kerja tekhnis tapi lambang dari kerja penyadaran."
--Eko Prasetyo, Halaman: 114
"Puisi memang bukan dimaksudkan untuk menyampaikan kepada kita uraian persis tentang kejadian-kejadian melainkan untuk mengungkapkan sesuatu dari perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang melahirkan atau disodorkan oleh kejadian itu."
--David Fontana, Halaman: 115
"Seni bersikap kritis terhadap dunia untuk menciptakan rasa rindu akan rasa perasaan keindahan yang mampu menyingkirkan segala yang buruk dan tercela dalam realitas politik praktis."
--Hegel, Halaman: 110
"Hidup adalah memberontak... Maut adalah perkelahian terakhir dari kemerdekaan... Dalam masyarakat kita, dimana semangat pemberontakan ini yang juga merupakan semangat hidup dikekang. Di sanalah kata lebih suci daripada Roh, dan adat menjadi lebih suci daripada pikiran."
--Tagore, Halaman: 121
"Pembangkangan, bagi mereka yang pernah membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemajuan dicapai, melalui ketidakpatuhan dan pemberontakan."
--Oscar Wilde, Halaman: 126
"Kebenaran itu seperti matahari, kamu dapat menutupinya sementara waktu, tetapi dia tidak akan pernah hilang samasekali."
--Elvis Presley, Halaman: 126
Posting Komentar
0 Komentar